Lima Hari Terjebak di Poso

By

Kota ini tampak sepi. Jalanan hari senin pagi lebih mirip dengan jalan saat lebaran di Ibu Kota. Pusat kotanya berada dipinggir pantai dengan perbukitan di sebelah selatan dan barat. Katanya, bukit disebelah barat adalah tempat persembunyian para teroris. Operasi TNI dan Detasemen Khusus (Densus) 88 atau Operasi Tinombala terjadi di daerah yang dinamai Gunung Biru itu.

Dulu pembunuhan terjadi di seluruh kota. Konflik meletus di semua penjuru. Saya dibawa oleh sebuah mobil sampai disana. Jalan yang tidak benar-benar baik, mobil BMW gak akan cocok dibawa kesini. Softbreakernya langsung rusak. Saya cuma bawa satu ransel dan tas soren kecil, kalau konflik meletus lagi, saya bisa lari kapan aja, pikir saya saat itu.

Menurut buku yang saya baca, rusah-rusuh di Poso telah dimulai sejak 1998, bukan baru dimulai. Konflik ini melibatkan para pemuda di Poso dan mengakibatkan kerusuhan antar agama. Katanya ini diawali dari pemuda yang mabuk. Nah lho! Ribuan orang Tewas, ratusan orang hilang gak tau itu kabarnya gimana dan puluhan mungkin ratusan orang ditangkap karena terlibat dalam konflik.

Sepanjang jalan banyak rumah yang tertutup rimbun ilalang dan tanaman liar karena ditinggal pemiliknya. Ada juga tanah kosong dengan puing-puing rumah yang nampak bekas dibakar. Penerangan minim jika bukan di tengah kota. Ya wajar penerangan minim, orang tiap sore mati lampu selama beberapa jam. Sialnya, saya terjebak disana! Lima hari pula, alamak !

Salah satu rumah yang dibakar dan ditinggalkan pemiliknya (redaksi ruangobrol/RN)

Saya terjebak oleh suasana kota yang tidak pernah saya temui di kota lainnya. Pantainya super bersih! Pantai di Jawa sih, kalah jauuuuuuh. Ombaknya tenang. Tiduran di pantai sambil menikmati durian khas Poso, bikin gak mau pulang ke Jakarta. Belum lagi harga ikan yang bisa bikin pingsan emak-emak metropolitan ibu kota saking murahnya. Mereka yang biasa tinggal di ibukota akan norak karena pantainya, harga makanan dan suasananya yang tenang. Belum lagi Danau Tentena yang gak kalah dahsyat kerennya. Pinggir Pantai, tapi gak sepanas Ibu Kota, sumpah!

Pantai Imbo, Poso (redaksi ruangobrol/RN)

Anak mall emang gak akan cocok main kesini karena disini cuma ada satu mall dan itu masih baru. Tapi kalau mau traveling dan tahu Indonesia seberapa indah, harus banget kesini! Ada Bandara yang hanya melayani penerbangan pulang pergi ke Makassar. Opsi lainnya, kita bisa terbang ke Palu dan menempuh jalan sekitar 200 km menuju Poso. Ada juga bis dari Manado, tapi sayangnya saya gak sempet nanya ke supir bis berapa lama perjalanannya.

Bandar Udara Kasiguncu, Poso (redaksi ruangobrol/RN)

Keramahan orang-orang Poso juga berbeda. Meski mereka sedikit seperti ngotot dan bentak-bentak, tapi itu mereka senang bercengkrama dan bercanda. Kadang memang itu terlihat seperti bully dan bahkan nampak menghina, namun ternyata hanya candaan. Mungkin awal-awalnya kita tidak akan terbiasa, tapi kalau teman-teman terbiasa dengan budaya timur Indonesia, begitulah mereka. Selama masih di Indonesia, kita akan selalu dapat sambutan yang ramah.

Ada yang mau coba terjebak di Poso?

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like