Kepada warganet, bijaklah bermedia sosial…
Kata-kata itu yang melekat di pikiran saya ketika menonton debat sesi pertama Calon Presiden dan Wakil Presiden Indonesia, hari Kamis kemarin. Kata-kata itu lebih menggelitik di banding debat itu sendiri hehehe.
Kata-kata itu keluar dari Ira Kusno, presenter kawakan yang jadi salah satu pembawa acara debat tersebut. Ira ini dulu kerap muncul di Liputan 6 SCTV.
Warganet digunakan Ira untuk tujuan khusus sasaran imbauannya. Tentu saja maksudnya kepada warga internet atau kerap disebut netizen. Istilah warganet alias warga internet memang masih baru, tapi sudah ada di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Karena baru, mesti tak baru-baru amat, istilah ini mungkin saja ini belum familiar didengar seluruh rakyat Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dan mungkin juga jadi pekerja-pekerja kita di luar negeri sana.
Ngomong-ngomong soal debat itu, tentu saja penontonnya ada di berbagai tempat. Ada yang di studio, ada yang nonton TV di rumah atau di lokasi lain, termasuk mereka yang menonton debat lewat gawainya melalui layanan internet.
Memang, akhir-akhir ini warganet jadi salah satu yang mencuri perhatian sendiri. Tak lain tak bukan adalah karena unggahannya, entah itu berupa video, gambar ataupun rentetan kalimat.
Tak hanya soal politik yang panas suhunya jelang coblosan April mendatang. Tapi di media sosial itu, tempat warganet berada, kerap juga ditemui pembahasan-pembahasan lain di luar soal politik yang tak kalah ‘edan’ bahkan cenderung menghina akal sehat wkwkwk.
Lho kok menghina akal sehat?
Saya kasih contoh ya. Ini yang sudah saya capture sebelumnya lewat media sosial Instagram.
Pada 10 Januari 2019 di salah satu akun sebut saja bunga, tepatnya jam 10.31 WIB saya meng-capture, di situ ada unggahan video rekaman CCTV siswi SMK yang sedang berjalan di gang Jalan Riau, Baranangsiang, Bogor.
Saat sepi, pelaku menusuk korbannya di dada kiri. Pelakunya kabur, korbannya meninggal dunia.
Saat itu, postingan video sudah ditonton sebanyak 20.218 kali. Komentarnya beragam; mulai dari bersedih hingga mengutuk pelaku.
Mereka yang berkomentar tentu saja aneka macam manusia. Ada yang mungkin kenal sama korban, satu sekolah atau pernah satu sekolah, sesama putih abu-abu. Atasnama kemanusiaan warganet guyub mengutuk insiden itu.
Lah, lagi menikmati aneka komentar, tetiba muncul komentar yang tak lazim untuk postingan itu.
Adalahhhh, dari salah satu akun yang isinya jualan masker. (saya enggak perlu menyebut nama akunnya ya wkwkwk)
Di antara warganet yang bersedih dan marah karena pembunuhan itu, akun itu malah memberikan komentar yang isinya jualan masker wajah.
Akibatnya sudah bisa ditebak: bullying!
Komentarnya beragam, beberapa di antaranya:
*Woy lagi berduka nih woy buset dahh!!!
*Liat tah spirunila gaada otak bisnis sobat misqueen, berita orang meninggal tetep jualan yaawlah
*Seller yang baik itu tau tempat di mana ia harus berjualan.bad seller.
Yup! <<<Kalau dibayangkan di dunia nyata, begini; ada sebuah rumah yang lagi suasana duka, pelayatnya bersedih dan marah, eh tetiba seorang pelayat menawarkan dagangan di tengah rumah duka, apa akibatnya??? Silakan dibayangkan sendiri>>>>>
Yang jelas, apa nggak menghina akal sehat tuh?
Tulisan ini bukan ceramah apalagi perintah, tapi sekadar ajakan aja ya. Sama seperti Ira Kusno yang meminta warganet bijak bermedia sosial.
Lihat-lihat tempatlah, kalau beda pilihan silakan, tapi jangan rusuh, jangan maki-maki. Kalau mau jualan ya silakan, tapi jangan di lapak orang meninggal juga kann….salam dari warganet.