Serunya Berprasangka(???)

nurdhania
nurdhania
4 Min Read
Anggota kelompok Pulau Jawa sedang menuliskan prasangka baik dan buruk terhadap orang Sumatra

Kali ini kita masih membahas seputar kegiatan IMMOVE18 alias Indonesia Milenial Movement. Sebuah event yang pernah saya ikuti pada November 2018 bersama 100 milienal dari seluruh Indonesia. Kegiatan itu bertema ‘Percaya Indonesia’.

Hari pertama, malam hari, fasilitator mengadakan sebuah permainan mengenai prasangka. Hah? Prasangka itu kan nggak baik. Tapi tunggu dulu, jangan berprasangka buruk dulu ya….

Jadi begini. Permainannya itu, kita diminta untuk dibagi berkelompok, berdasarkan asal pulaunya. Saat itu ada 6 kelompok. Pulau dengan anggota terbanyak dimenangkan oleh kelompok Pulau Jawa hehehehe. Setelah terbagi, kami diminta menuliskan beberapa prasangka baik dan buruk kita terhadap orang-orang dari pulau lain. Wah! Kalau ini mah sudah sering banget ya kita dapati dari orang-orang sekitar kita, hehehe. 

Diskusi kelompok Pulau Sumatera terhadap orang Jawa
(Dokumentasi Ma’arif Institute)

Setelah semuanya selesai, saatnya untuk membacakan hasil diskusi masing-masing kelompok. Ya begitulah, prasangka buruk banyak yang jatuhnya jadi membully.  

Wanita asal Ambon dan Papua sedang membacakan hasil diskusi prasangka mereka terhadap orang Sulawesi.
(Dokumentasi Ma’arif Institute)

Hasil diskusinya begini; orang-orang dari Pulau Sumatera terkenal pelit, berwatak kasar, suaranya keras, cantik-cantik, pintar dagang, taat agama dan sedikit intoleran. Mendengar hal itu, ada beberapa mengiyakan namun ada pula yang menolak. Canda tawa sudah mulai kelihatan di pembicaraan pertama. Karena terdengar agak sadis terhadap prasangka buruknya. Orang Papua katanya ramah-ramah, dan toleransinya tinggi. Begitupun juga dengan Bali dan Nusa Tenggara. Namun, sempat dikatakan bahwa Bali suka kebarat-baratan (apakah hanya karena banyak turis mancanegara?). Kalimantan dikatakan lebih cinta Malaysia. Namun, hal itu ditangkal oleh salah satu pemuda kalimantan, bahwa “walaupun perut Malaysia tapi hati kami Indonesia”. 
Dia menambahkan bahwa barang-barang dari Malaysia terbilang lebih murah. Sehingga mereka sering membeli produk dari Malaysia. Kalau untuk Sulawesi, dibilang suaranya bagus-bagus, wanitanya cantik-cantik, bersuara keras, suka mistis, dan sebagainya. Kalau untuk Pulau Jawa terkenal suka curang, tukang tipu, suka hal mistis, pintar dagang, manis-manis, ramah, dan sebagainya. Hal-hal ini diiyakan oleh kelompok Pulau Jawa. (duh, kayaknya gak semua Jawa gitu deh).

Nah, begitulah prasangka. Hal-hal yang disebut di atas nampaknya sering sekali kita dengar. Contohnya dari orang-orang di sekitar kita. Sering kali kita menggeneralisir semuanya. Seperti, “Ih.. tuh orang kok begitu ya?, ooh.. Orang Padang, pantesan begitu”. Mau sampai kapan, kita mengetahui bagaimana mereka sebenarnya kalau dari awal sudah ogah, karena termakan akan prasangka-prasangka dari kata orang atau men-judge dia Jawa, Sunda, Bali, Padang, dan seterusnya.

Semua prasangka-prasangka itu akan patah dan hilang ketika kita mengenal dan bergaul dengan mereka. Bahwa apa yang selama ini kita sangka sangatlah berbeda, dan saya telah menyaksikannya langsung. Bergaul bersama orang-orang dari Sabang sampai Merauke.

Bahkan, Tuhan bilang bahwa sebagian dari prasangka itu dosa. Semoga kita semua terhindar dari prasangka-prasangka ini ya…

Allah SWT berfirman:”Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”(QS. Al-Hujurat:12).

Sumber gambar: Dokumentasi Ma’arif Institute

TAGGED: , ,
Share this Article
Posted by nurdhania
Follow:
Tell stories to the worldwide
Leave a comment