MY JOURNEY : Dinamika Eksperimen Jihad di Indonesia (9)

Arif Budi Setyawan
Arif Budi Setyawan
4 Min Read

Setelah Jabhatun Nushrah (JN) berhasil menguasai beberapa wilayah di Syiria, secara tiba-tiba pihak Islamic State of Iraq melalui juru bicaranya mengumumkan berdirinya Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) dan meminta agar JN melebur ke dalam ISIS. Pihak JN yang merasa deklarasi ISIS itu di luar rencana dan bukan merupakan perintah dari Syaikh Ayman Adzh Dzhawahiri tentu saja menolaknya, karena mereka datang untuk bertempur di Syiria adalah karena perintah dari Al Qaedah pusat.

Inilah awal perpecahan di tengah sebuah kelompok jihad yang paling populer, paling besar, paling kuat, dan paling banyak pendukungnya dari seluruh dunia. Para pendukungnya pun menjadi gempar dan tidak sedikit yang mengalami kebingungan dengan apa yang terjadi di sana itu. Masing-masing pihak baik JN maupun ISIS berlomba-lomba menjelaskan kepada para pendukungnya dengan versinya masing-masing. Para pendukungnya yang di Indonesia pun ikut terpecah. Ada yang lebih percaya pada JN dan ada pula yang sebaliknya.

Tetapi lambat laun saya melihat –di Indonesia-  ISIS kemudian lebih unggul dari JN dalam mempertahankan pendukung yang lama dan merekrut pendukung baru. Mengapa ?

  1. Orang-orang yang bergabung dengan ISIS di Syiria lebih agresif –atau lebih tepatnya lebih narsis- dalam menyebarkan kondisi di sekitarnya, termasuk pembelaan terhadap ISIS dalam kasus perpecahan dengan JN. Ini membuat para pendukungnya di seluruh dunia –termasuk di Indonesia- memiliki argumen yang lebih kuat untuk semakin mendukung ISIS.
  2. Sayap media yang dimiliki ISIS lebih bagus karena sudah ada sejak era Islamic State of Iraq. Karena JN tidak mau mengikuti ISIS, maka segala SDM dan teknologi yang dimiliki ISIS tidak bisa digunakan oleh JN. Hal ini membuat kualitas video dan rilisan-rilisan digital dari ISIS lainnya menjadi jauh lebih banyak dan lebih bagus kualitasnya serta lebih tajam dalam propaganda.
  3. ISIS menawarkan sebuah revolusi dalam jihad, yaitu membangun wilayah kekuasaan dengan menyerang musuh yang menghalangi di sekitarnya. Hal ini rupanya menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendukung jihad di seluruh dunia, di mana hal ini belum pernah dilakukan oleh Al Qaeda yang menjadi idola para pendukung jihad sebelumnya.

Tapi di kemudian hari revolusi ini menjadi titik awal sebuah ‘radikalisme sadisme’, di mana ISIS kemudian memerangi semua pihak yang menghalangi eksistensi ‘khilafah’ mereka  termasuk sesama kelompok yang berjihad di Syiria yang mereka anggap menghalangi tujuan mereka.

Dideklarasikannya ISIS menandai awal dari periode ketiga dunia ‘eksperimen jihad’ di Indonesia, yang mana  baik di ranah online maupun offline menjadi kian memburuk sejak terjadinya perpecahan antara ISIS dan JN. Bagi orang-orang yang sudah lama mendukung Al Qaedah akan menganggap ISIS sebagai gerakan yang menyimpang dari jamaah karena mendeklarasikan sebuah kelompok baru. Sedangkan bagi pendukung ISIS, mereka menganggap jalan perjuangan Al Qaedah sudah kuno, kurang agresif, kurang inovatif, banyak penyimpangan, dll, sehingga perlu sebuah terobosan yang baru.

Situasi saling serang dan beradu argumen di antara masing-masing pendukung sangat terasa di majelis-majelis online maupun offline. Padahal kalau mau dipikir, perpecahan itu kan terjadi di sana, bukan di sini. Mengapa pula yang di sini –yang hanya suporter- ikut-ikutan ribut ? Apa memang sudah tabiat masyarakat Indonesia yang suka meributkan sesuatu yang didukungnya ( capres, parpol, tim sepakbola, artis, dll)?

(Bersambung, In sya Allah)

Share this Article
Posted by Arif Budi Setyawan
Follow:
Observing and Inspiring
Leave a comment