Thohirin: Stigma Membuat Bisnisku Hancur

By

Dalam suatu kesempatan, Presiden Joko Widodo dalam pidatonya di acara Rapat Pimpinan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Tahun Anggaran 2016 di Aula Gedung Gatot Subroto Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (16/12/2015) menyebut bahwa kemiskinan menjadi salah satu penyebab merebaknya paham terorisme.

Sebagaimana dikutip dalam CNN Indonesia, Rabu (16/12/2015), “Kemiskinan, keterbelakangan, kesenjangan sosial, kalau diteruskan, berbahaya dan akan kemungkinan menjadi bahan bakar bagi tumbuhnya masalah sosial, termasuk radikalisme, ekstremisme, dan yang lebih ke sana lagi, terorisme,” ujar Jokowi.

Banyak kalangan menilai bahwa orang terlibat dalam kegiatan terorisme karena faktor kemiskinan dan kesenjangan sosial. Sehingga muncul kesan bahwa mereka yang terlibat adalah para kaum marjinal, pengangguran, dan kelompok kelas rendah.

Benarkah kemiskinan menjadi pemicu orang terlibat dalam jaringan terorisme? Nyatanya, tidaklah demikian.

Adalah Thohirin, seorang eks-napiter yang pernah mendekam dibalik dinginnya jeruji penjara. Ia dinyatakan bebas bersyarat setelah menjalani masa hukuman selama 3 tahun dengan vonis awal kurungan penjara selama 3,8 tahun.

Thohirin sendiri ditangkap oleh Densus 88 saat hendak istirahat di rumahnya. Dalam penangkapan tersebut, turut juga diamankan beberapa orang karyawannya yang tinggal di sebuah rumah kontrakan dengan tuduhan turut juga terlibat dalam aktivitas terorisme.

Namun sebelum dirinya terjerat dalam kasus terorisme, Thohirin adalah seorang pengusaha kebab di tempatnya berada.

Sebagai seorang perantau (bukan penduduk setempat), untuk bisa bertahan hidup di wilayah baru tentu bukanlah hal yang mudah.

Peran seorang istri menjadi kunci bagi seorang suami yang juga ayah bagi anak-anaknya untuk berjuang lebih keras. Sekedar membuat dapur tetap mengebul, sudah lebih dari cukup baginya.

Dan hasilnya, usaha yang Thohirin bangun dari nol bersama istri ini pun semakin lama kian berkembang.

Sehingga hal tersebut mendorongnya untuk mengembangkan sayap bisnis kebabnya dengan membuka cabang baru. Dan tentu saja, hal ini akan membutuhkan tambahan tenaga.

Hingga pada akhirnya, ia berhasil memiliki 40 outlet yang tersebar di beberapa wilayah dengan diperbantu puluhan karyawannya.

Tak ubahnya roda yang berputar, bisnis pun demikian. Adakalanya ia mengalami masa jaya, namun saat masa paceklik tiba, maka hilanglah segalanya.

Siapa menyangka, tatkala usaha yang digelutinya mulai menghasilkan rupiah demi rupiah. Justru nasib baik tak berpihak kepadanya.

Ia ditangkap oleh aparat Densus 88 atas dugaan keterlibatan dirinya dalam sebuah rencana penyerangan pada salah satu kantor Kedubes di Jakarta.

Sebuah rencana keji yang tak pernah terbesit olehnya. Hanya karena ulah beberapa temannya, ia terpaksa terseret dan harus menanggung beban semuanya. Beban untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, beban harus meninggalkan istri dan anak-anaknya, dan beban harus melepas bisnis yang baru mulai dirintisnya.

Pasca penangkapan dirinya atas tuduhan keterlibatan dalam jaringan terorisme, menyebabkan seluruh usaha yang ia bangun jatuh terpuruk. Mengandalkan istrinya untuk mengelolah usahanya, tidak mungkin menyusul stigma negatif yang terlanjur disematkan pada keluarga ini.

Pasca bebas, Thohirin mencoba untuk kembali meneruskan bisnis kebabnya. Namun gagal, citra dirinya sebagai seorang mantan narapidana kasus terorisme membuatnya diasingkan dari lingkungan tempat tinggalnya. Termasuk para pelanggannya.

Ia pun terpaksa menutup usaha kebabnya. Tak patah arang, ia beralih pada bisnis yang baru, yakni berjualan serbuk minuman kesehatan berbahan dasar jahe. Sempat berjalan dengan baik, namun akhirnya kembali gagal lagi.

Ia bangkit kembali. Bersama dengan beberapa temannya yang juga seorang mantan napi teroris, Thohirin mencoba peruntungan dengan membuka toko sepatu. Namun bisnis ini pun gagal. Bukannya untung, justru ia banyak mengalami kerugian.

Lelah bertarung dengan keadaan, ia kini lebih memilih menjadi sebagai pekerja serabutan dengan status profesi yang tidak jelas dan tanpa penghasilan pasti. Belum lagi, ia harus bertarung melawan stigma negatif yang membuat dirinya dan keluarga harus terisolir dari lingkungan sosial tempatnya berada.

 

Sumber foto: https://www.healthyplace.com/blogs/recoveringfrommentalillness/2012/04/mental-illness-stereotypes-and-stigma

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like