Daftar jadi Millenial (?)

By

Pada tanggal 9 – 13 November 2018, sebuah Non Government Organization (NGO) bernama Ma’arif Institute yang didukung Convey Indonesia, PPIM UIN Jakarta dan UNDP mengadakan sebuah even nasional yakni; Youth Congress On Preventing Violent Extrimism, Indonesia Millenial Movement (IMMOVE) 2018 bertema “Percaya Indonesia”.

Alhamdulillah, salah satu kontributor ruangobrol.id, yakni Nur Dhania alias saya sendiri, lolos seleksi!

Kali ini, saya akan berbagi beberapa pengalaman saya dan pelajaran yang saya dapatkan dari 5 hari mengikuti kegiatan itu. Tapi nggak semuanya dalam satu tulisan ya, rencananya akan saya buat berseri tulisan ini: Part 1, Part 2 dan seterusnya.
Sekarang, saya mau cerita sedikit bagaimana proses daftarnya.

Pertama kali, saya dapatkan info ada kegiatan IMMOVE 2018 itu dari seorang teman yang juga bekerja di sebuah NGO. Kalau nggak salah, sekira akhir September lalu, saya dapat info awal kegiatan tersebut.

Prosesnya, dari awal saya langsung buka link yang diberikan dan isi beberapa kuisioner. Sampai pada akhirnya, saya diminta untuk mengirim essai dan vlog dengan deadline 26 Oktober 2018. Kali ini saya kebingungan, karena memang belum buat sama sekali.

Di antara kebingungan itu, saya
sesekali cek akun media sosial Ma’arif Institute. Saya tertarik! Karena banyak mengundang pembicara yang top! Tapi di sisi lain ya gitu, saya males banget untuk membuat essai dan vlog sebagai salah satu syarat ikut seleksi kegiatan itu.

Sekali lagi, saya terus menunda persyaratan itu. Saya pikir, deadline 26 Oktober 2018 itu masih lama! Jadi nanti-nanti aja deh!

Malas itu akhirnya terhantam dengan pemikiran saya; kegiatan itu tentu bisa membuat saya lebih berkembang! Baik tambah ilmu, pengalaman maupun pertemanan baru. Bahkan, di awal saya nggak kepikiran kalau kegiatan ini akan membahas tentang Preventing Violent Extremism. Tapi lebih kepada perdamaian-persatuan Indonesia(sama aja ya. Intinya gak bakal bahas ektrimisme,lah)

Tanggal 24 Oktober 2018 alias 2 hari sebelum deadline, pas banget saya lagi di kantor ruangobrol.id. Saya coba untuk buat essai. Ketika itu, Saya mencoba mencari lagu di internet yang ada kata-kata percaya Indonesia. Karena, biasanya dari lagu-lagu saya bisa dapat ide.
Pencarian di dunia maya itu akhirnya berujung sebuah lagu yang diupload di YouTube, ciptaan Melly Goeslaw berjudul Percaya Indonesia. Saya dengarkan lagu itu untuk inspirasi menulis saya. Tapi, belum dapat ide juga.

Saya coba diskusi dengan Mas Hakiim (Pimred ruangobrol.id), minta berbagai masukan dari beliau.

Tuts keyboard laptop kemudian mulai berjalan. Jadilah sebuah tulisan dengan 400 kata. Saya sempat tunjukkan ke Mas Hakiim dan Mas Eka (editor ruangobrol.id); menurut mereka tulisanku udah bagus. Essai rampung!

Tapi masih ada satu syarat lain yang harus dipenuhi, yakni; vlog 60 detik. Saya langung lanjut untuk membuat naskah vlog itu. Sebab tulisan yang saya angkat membahas tentang persatuan Indonesia, tentunya isi vlog itu nggak jauh-jauh beda dong sama tulisannya.

Alhamdulillah naskah bisa cepat selesai. Saya langsung record di halaman belakang kantor dengan smartphone milik saya.
Setelah selesai, saya langsung ke rumah Mas Mato untuk bantu edit video saya. Mas Mato itu editor video handal.
Karena laptop saya udah nggak bisa diajak kerja(lemotnya kebangetan) , jadinya saya minta tolong beliau.

Setelah dilihat, menurut Mas Mato hasil rekaman dari ponsel saya kurang bagus dan kurang jelas. Akhirnya, direkam ulang dengan kameranya Mas Mato. Selain saya, kaka saya juga ikut membuat video bersama di rumah Mas Mato.
Alhamdulillah malam itu juga selesai. Terimakasih Mas Mato!

Hari berikutnya, saya langsung buka link pendaftarannya dan mengisi semua kuisioner, memasukkan essai dan mengupload vlog di akun Instagram saya.
Saya sempat kirim form tersebut dua kali, sebab awalnya saya kira tidak terkirim.
Kemudian, saya cek kembali akun Ma’arif Institute dan baru sadar kalau itu adalah seleksi. Saya pikir siapa aja bisa ikut tanpa seleksi, hehehe.

Dag dig dug rasanya menunggu hasil. Saya doa, minta sama Allah biar lolos. Jantung makin dag dig dug karena waktu pengumuman peserta lolos atau tidak, diundur.

Tanggal 1 November 2018, sore hari, kakak saya ngasih kabar kalau saya lolos seleksi. Alhamdulillah seneng banget! Tapi sedih juga karena kakak saya nggak lolos.
Peserta yang lolos disarankan untuk konfirmasi ke panitia. Kemudian dimasukkan ke grup WhatsApp.

Di situlah, pertemanan saya dengan 99 duta dari seluruh Indonesia dimulai.

*(bersambung)*

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like